
BERGERAK PASTI MENGGAPAI MASA DEPAN
04/02/2009 22:51:05
Teluk Bintuni maju bersama kekayaan potensi yang dimilikinya, dari pertanian hingga perikanan.
Pelayanan kesehatan kepada masyarakat, menjadi fokus yang penting dalam program di Kabupaten Teluk Bintuni. Sarana dan prasarana kesehatan pun dibangun cepat. Kini, semuanya telah lebih baik, ujar Dr Andreas Ciokan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten teluk Bintuni. Saat ini dari 10 distrik di Teluk Bintuni, telah ada 11 Puskesmas. Masing-masing Puskesmas minimal dilayani seoarang dokter, ujarnya. Kehadiran para dokter itu diharapkan bisa membantu upaya peningkatan kesehatan masyarakat Teluk bintuni.
Selain itu, Pemda Teluk Bintuni juga bergiat membangun infrastruktur jalan. Sebuah pekerjaan yang tidak ringan, sebab ketika pertama kali dimekarkan pada 2003 yang lalu, kondisi jalan di kabupaten ini sangat memprihatinkan. jalan yang layak pada awal pemekaran tidak sampai lima kilometer, ujar Yusak Karubuy, Kepala Dinas Pekerjaan Umum ( PU ) Kabupaten Teluk Bintuni. Hasilnya terlihat dengan jelas. Di Bintuni ruas jalan dengan kategori baik sejauh 32 km berhasil diselesaikan. Kendala terbesar kami adalah soal dana. Namun dengan segala keterbatasan, kami coba untuk menyiapkan jalan yang memadai, ujarnya.
Selain membangun jalan di dalam kota Bintuni, dinas PU juga berhasil membuka akses jalan hingga ke distrik. Meskipun akses jalan belum mencapai semua distrik, namun upaya ini telah mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Penjualan hasil pertanian dari daerah pedalaman mulai nampak. Dalam rencana kami akan membangun jalan lingkar Teluk Bintuni yang menghubungkan semua distrik dan sentra-sentra ekonomi rakyat, kata Yusak Karubuy.
Wajah Teluk bintuni juga mulai berubah dengan pembangunan di sektor pendidikkan. Untuk memberikan akses yang mudah bagi masyarakat, Pemerintah Kabupaten membebaskan biaya pendidikkan dari tingkat TK hingga SMA. Langkah ini dengan sendirinya meningkatkan jumlah peserta didik di setiap strata pendidikkan, ujar Buce H. Maboro, Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan dan Pariwisata ( PK dan P ) Teluk Bintuni.
Saat ini menurut Buce, telah ada 19 TK, 67 SD, 17 SMP, 6 SMA, dan 1 SMK dengan dua jurusan, yakni Akuntansi dan Elektronik. Jumlah sekolah yang ada cukup memadai, namun jumlah guru yang ada masih sangat kurang, ujar Buce.
Untuk mengatasi keterbatasan guru, Pemerintah Kabupaten melalui Dinas PK dan P merekrut tenaga guru honorer. Selain itu Dinas PK dan P pun tengah menjajaki kerjasama peningkatan kemampuan guru dengan Universitas Cendrawasih. Dengan kualitas guru yang baik, sumber daya manusia yang akan dihasilkan pun semakin bermutu. Sumber daya manusia unggulan inilah yang kelak akan menjadi nahkoda bagi Teluk Bintuni, ujarnya, penuh harap.

UDANG BINTUNI SANG PRIMADONA
Luas Wilayah perairan kabupaten ini sekitar 1.123,65 km persegi dengan sebagian besarnya adalah hutan mangrove yang memungkinkan berkembangnya berbagai jenis biota laut. Fakta tersebut dengan sendirinya menjelaskan kekayaan perairan Teluk bintuni. Ikan baronang, kerapu, rumput laut, berbagai jenis kerang, serta kepiting, dan uadang adalah sebagian potensi perairan Bintuni. Kekayaan perairan ini tersebar di 10 distrik yang ada di teluk bintuni.
Meskipun kaya dengan berbagai potensi kelautan namun, udang dan kepiting menjadi primadonanya. Kepala Bappeda Teluk bintuni Drs Ajumat Fimbay, MBA mengatakan, dua komoditi ini berpotensi menjadi komoditi andalan jika dikembangkan dengan baik.
Saat ini nelayan udang di Teluk bintuni memasarkan hasil tangkapannya pada kapal-kapal pembeli yang sering menyinggahi perairan teluk bintuni. Antonius Soai, salah seorang nelayan dari kampung Onar, menceritakan, ia dan teman-temannya menjual hasil tangkapan mereka seharga Rp.32 ribu per-kilogram.
Soai menjelaskan, seorang nelayan udang mampu menangkap 20 hingga 30 kilogram udang setiap kali melaut. Dengan hasil tangkapan sebanyak itu, para nelayan tersebut dapat menghasilkan uang sekitar Rp. 600 ribu hingga Rp. 900 ribu. Sayangnya, kapal tidak setiap saat ada disini. Kami tidak memiliki cool storage, sehingga tidak dapat melaut setiap hari, ujarnya.
Kepala Dinas perekonomian Daerah Teluk Bintuni, Ferdinand Timisela, SH mengakui bahwa hal tersebut adalah salah satu persoalan utama nelayan di Kabupaten ini. Untuk mengatasi persoalan tersebut, papar Timisela, Pemerintah Kabupaten merancang pendirian sebuah perusahaan daerah yang akan menjadi penampung dan memasarkan semua hasil para petani dan nelayan.
|